Sejak bulan Oktober 2025 lalu, Pemerintah Indonesia sudah secara resmi mengumumkan penghapusan beberapa proyek nasional, termasuk Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 dari daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).⁠

Namun, Presiden Prabowo menggantinya dengan beberapa area baru, salah satunya adalah pembangunan Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara

Area yang berlokasi di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara ini memang sudah ditargetkan oleh pemerintah sejak akhir tahun lalu seiring dengan masuknya investasi dari Perusahaan material baterai asal China, CNGR Advanced Material Co, sekitar Rp. 164,9 triliun untuk membangun kawasan industri baterai terintegrasi di Indonesia. 

Namun masalahnya, area Konasara ini memiliki karakter geoteknik yang unik, sehingga perlu ada treatment khusus sebelum berbicara mengenai teknologi tinggi, investasi besar, dan rantai pasok baterai. Apa saja itu? Cek ulasan lengkapnya di artikel ini!

Masalah Utama Pembangunan Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara

Tidak ada industri besar tanpa pondasi yang kokoh, apalagi jika untuk sebesar mega proyek kerjasama pembangunan kawasan industri baterai di Konasara. 

Pada skala ini, tentu area tersebut membutuhkan jalur logistik untuk kendaraan berat, gedung produksi dengan beban dinamis tinggi, area penyimpanan bahan baku sensitif, serta infrastruktur utilitas yang luas (IPAL, PLTS, jaringan pipa proses, dll).

1. Jenis Tanah Laterit

Namun catatannya, jenis tanah di Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara ini dikenal dengan lateritnya. Jadi, tanah ini memiliki kekuatan yang baik ketika kering, tetapi bisa sangat lunak ketika basah.

2. Struktur Tanah yang Tidak Seragam

Pembangunan Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara juga mungkin akan terkendala dengan perbedaan lapisan tanah (keras–lunak–gambut), kawasan industri harus dibangun dengan rekayasa tanah yang tepat pada setiap zona.

3. Rentan Erosi dan Longsor

Area Konasara juga rentan terhadap erosi, longsor kecil, dan penurunan kualitas tanah jika tidak diperkuat. Bahkan, tanah laterit juga tipe yang tidak menyerap air dengan cepat. 

Jadi, untuk kawasan industri baterai yang penuh peralatan listrik, masalah drainase, seperti banjir juga bisa menjadi ancaman serius.

Banyaknya masalah utama dari lahan Konasara, membuat tanah ini harus direkayasa terlebih dahulu, sebelum memulai pembangunan lainnya dan salah satu caranya, yaitu dengan memanfaatkan geotextile.

Geotextile Woven Urban Plastic[1]

Aplikasi Geotextile untuk Proyek Pembangunan Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara

Kondisi tanah yang berjenis laterit membuat rekayasa pondasi lahan harus dilakukan dengan memadukan geotextile woven dan juga non-woven. Tentunya hal ini dilakukan karena beberapa alasan penting, seperti:

1. Meningkatkan Daya Dukung Tanah

Dalam rangka menyukseskan program kerjasama untuk membangun kawasan industri baterai terintegrasi di Indonesia, proyek ini membutuhkan waktu sekitar 10-15 tahun. Sebab kondisi tanahnya harus dilakukan rekayasa agar dapat meningkatkan daya dukung tanah.

Geotextile yang ideal digunakan dalam hal ini berjenis woven, karena memiliki tensile strength tinggi (kekuatan tarik besar) serta kemampuan untuk menahan deformasi dan menyebarkan beban berat, serta menghindari retak pada lantai pabrik dan gudang

Jadi sangat cocok diaplikasikan untuk proyek ini yang membutuhkan pembangunan masif jalan industri, lokasi heavy equipment, dan lantai pabrik. Bahkan material ini juga disebut lebih efektif sebagai reinforcement layer pada tanah laterit lembek seperti di Konasara.

2. Menjaga pemisahan lapisan tanah dan agregat

Selain itu, Geotextile woven juga dapat membantu untuk pondasi  jalan internal, jalur utilitas, dan area logistik di kawasan industri tersebut. 

Dimana material ini biasanya akan dikombinasikan dengan geogrid yang akan menjaga pemisahan lapisan tanah dan agregat (separation), sekaligus menjalankan fungsi reinforcement di lapisan bawah. 

Jadi, efektif untuk mencegah agregat tenggelam ke tanah lunak, khususnya karena angkutan berat terus melalui kawasan tersebut dengan intensitas yang tinggi.

3. Meningkatkan Drainase

Terakhir, kondisi tanah laterit yang sukar menjadi resapan air, membuat pemerintah harus merekayasa sistem drainasenya dengan tepat dan efisien. Terlebih, baterai menghasilkan air proses yang harus ditangani dengan ketat. 

Oleh karena itu, Geotextile non-woven berperan penting dalam sistem drainase, filtrasi, dan kolam retensi yang mencegah banjir sekaligus melindungi air tanah.

Aplikasi ini berfungsi sebagai filter layer antara tanah dan bahan drainase (batu/batu pecah), termasuk menahan partikel halus agar drainase tidak tersumbat. 

Selain itu, Geotextile non-woven ini juga bertindak sebagai liner pelindung di dasar/sisi kolam retensi apabila dipadukan dengan geomembrane. 

Material tersebut dapat diaplikasikan pada underdrain saluran IPAL, dasar kolam sedimen, bibir overflow di retention pond, hingga sistem filter pada mata air buangan pabrik.

Geotextile Woven merk Urban Plastic [1]

Dapatkan Berbagai Geotextile Berkualitas Hanya di Urban Plastic

Dalam rangka memenuhi kebutuhan geotextile berkualitas, Urban Plastic dapat hadir dan menjadi pilihan tepat untuk memenuhi segala kebutuhan material tersebut, khususnya sebagai  pondasi awal untuk pembangunan Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara.

Dengan rangkaian produk yang lengkap, mulai dari Geotextile woven, non-woven, geogrid, hingga geocell, Urban Plastic siap mendukung setiap tahapan pembangunan, mulai dari stabilisasi tanah dasar, pengelolaan drainase hijau, perlindungan lereng, hingga penguatan struktur untuk fasilitas industri berat seperti pabrik baterai terintegrasi.

Bukan hanya itu saja, jika kamu memiliki kebutuhan serupa dalam proyek yang sedang dikerjakan, maka Urban Plastic siap menjadi partner terbaik untuk memenuhinya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Geotextile Woven merk Urban Plastic, silahkan hubungi melalui: Whatsapp/Mobile Phone : +62 811 9151 338 (Anna) atau: Email: info@urbanplastic.id