Memilih material geotextile yang tepat sangat penting dalam proyek konstruksi dan infrastruktur tahan lama. Geotextile woven berbahan PP (Polypropylene) dan PET (Polyester) ialah dua jenis material yang sering digunakan. Keduanya punya karakteristik dan keunggulan yang berbeda. Pahami perbedaannya untuk pilih bahan yang sesuai dengan kebutuhan proyek. Berikut beberapa perbedaan PP vs PET yang harus Anda ketahui.
1. Perbedaan Bahan dan Warna Geotextile Woven PP dan PET
Terbuat dari serat polypropylene yang dianyam dan diekstrusi menjadi lembaran, bikin geotextile woven ringan. Material ini umumnya berwarna hitam dan dikenal punya ketahanan baik terhadap mikroba dan bahan kimia tertentu. Warna hitam tersebut memberikan keuntungan dalam menyerap panas, sehingga proses curing beton lebih terbantu.
Sebaliknya, bahan PET berwarna putih yang terbuat dari serat polyester yang lebih padat dan dianyam dengan teknik khusus. Ketahanan tariknya dianggap lebih tinggi, di sisi lain stabilitas mekaniknya jauh lebih baik jika dibandingkan dengan PP. Menariknya warna putih justru jadi efek visibilitas di lapangan, terutama di area proyek yang memiliki pencahayaan rendah.
Jika dibandingkan secara warnanya, kedua material memengaruhi pemilihan untuk aplikasi tertentu. Contohnya saja, PP yang lebih cocok untuk instalasi yang perlu paparan sinar UV tinggi. Sementara, untuk PET sesuai untuk proyek yang membutuhkan visibilitas tinggi, terutama di area dengan kondisi mekanik yang menuntut.
2. Kekuatan Tarik dan Ketebalan PP vs PET
Perbedaan geotextile PP dan PET terlihat dari daya tarik dan ketebalannya. Bahan PP memiliki kekuatan tarik yang cenderung standar dan cukup untuk aplikasi umum. Misalnya pada gramasi 300 gsm, nilai kuat tariknya mencapai sekitar 66/62 kN/m. Cocok untuk proyek perkuatan jalan dan konstruksi ringan.
Jika butuh daya tarik yang lebih tinggi dengan ketebalan yang lebih tipis, PET bisa jadi solusi. Biasanya digunakan untuk tanah yang sangat lunak atau lembek. Cocok untuk proyek yang butuh ketahanan lebih besar. Umumnya, geotextile PP jauh lebih ekonomis apabila diperuntukkan proyek jangka pendek dan beban ringan. Sementara itu, untuk jangka panjang dan beban berat, sebaiknya memilih bahan PET untuk mengoptimalkan stabilitas dan keberlanjutan struktur konstruksi.
3. Ketahanan Terhadap Lingkungan Geotextile Woven PP dan PET
Pemberian aditif anti UV dapat membuat geotextile woven PP tahan paparan UV hingga Alkali. Sayangnya dalam menahan creep atau perubahan bentuk akibat beban jangka panjang, dianggap tidak sekuat PET. Sebab, bahan PET mampu bertahan dari paparan asam dan stabil terhadap creep jangka panjang. Dalam mempertimbangkan material, penting untuk memahami kondisi lingkungannya. Pada pembangunan yang terpapar sinar matahari langsung atau lingkungan dengan pH tanah yang rendah (asam), misalnya. PET sangat disarankan karena superior terhadap kondisi ekstrim tersebut.
4. Fleksibilitas dan Perilaku di Lapangan
Geotextile woven PP lebih fleksibel, mudah digelar, dan lebih ekonomis, meskipun pada beban tarik tinggi bisa lebih cepat meregang. Sifat fleksibel ini memudahkan dalam pemasangan di area yang sulit dijangkau atau di proyek dengan waktu pemasangan yang terbatas. PET memang lebih kaku karena punya stabilitas struktural yang lebih baik. Apalagi untuk pembangunan di tanah lembek dan beban berat.
Perbedaan perilaku kedua bahan ini saat diterapkan di lapangan memengaruhi pemilihan material berdasarkan kebutuhan fleksibilitas dan ketahanan lebih. Geotextile PP lebih cocok untuk instalasi yang memerlukan pemasangan cepat dan fleksibilitas tinggi. Sedangkan, geotextile PET lebih sesuai untuk proyek yang memerlukan stabilitas struktural dan jaminan tahan lama.
5. Kisaran Penggunaan Geotextile Woven PP dan PET
Banyak pembangunan umum menggunakan bahan PP karena pemasangannya dan pemeliharaannya lebih rendah. Misalnya saja, proyek pembangunan jalan, pemisahan lapisan, proteksi lereng sedang, drainase hingga filtrasi. Plastik ini digunakan untuk lapisan pemisah antara lapisan tanah dengan agregat.
Sementara dari banyak proyek, penggunaan PET lebih sering digunakan pada daerah dengan tanah lembek dengan stabilitas yang kurang. Mulai dari aplikasi untuk stabilitas lereng curam, hingga proyek infrastruktur jangka panjang semacam pelabuhan, bendungan, dan jembatan. Material unit ini punya kekuatan yang ideal untuk menahan beban berat, secara usia juga tahan lama.
Pemilihan bahan harusnya ditentukan berdasarkan pada kebutuhan, dari kekuatan dan daya tahan dalam untuk konstruksi. Ambil contoh, misalnya, proyek reklamasi pantai membutuhkan stabilitas lereng, sehingga PET lebih disarankan. Namun, jika ingin yang ekonomis untuk jangka pendek, Anda bisa pilih bahan PP. Memahami karakteristik dan perbedaan kedua material ini akan mengoptimalkan efisiensi penggunaannya. Pastikan dulu kebutuhan daya dukung, stabilitas dan keberlanjutan struktur yang akan dibangun, sebelum memilih. Agar proyek selesai sesuai standar kualitas dan deadline yang ditetapkan.
Perusahaan PT. Urban Plastik Indonesia adalah Pabrik Plastik di Indonesia yang menjual produk-produk plastik seperti Tali Rafia, Plastik Cor, Plastik Sampah, Plastik Mulsa, Selang Irigasi, Plastik Singkong, Kantong Mayat, Karung Plastik, Geotextile Non Woven, Geomembrane, Geobag, Welding Rod, biji plastik, terpal plastik, Geogrid dan Geomat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Geotextile merk Urban Plastic, silahkan hubungi melalui: Whatsapp/Mobile Phone : +62 822 9933 3938 (Panni) atau: Email: info@urbanplastic.id .