Pemasangan Geobox untuk cegah abrasi di pantai-pantai Indonesia dapat menjadi solusi alternatif yang bisa dilakukan. Seperti yang kita tahu, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang setelah Kanada, sehingga cukup rentan terhadap abrasi. Tak heran, jika abrasi atau pengikisan pantai ini menjadi ancaman nyata bagi kawasan pesisir di Indonesia. Tentunya, abrasi tak hanya menggerus daratan. Tetapi juga berdampak pada ekosistem pesisir, mengancam pemukiman penduduk, fasilitas umum hingga mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada laut.

Melansir dari CNN Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2015 menunjukkan bahwa sebanyak 400 km garis pantai di Indonesia sudah tergerus abrasi. Dari total pantai sepanjang 745 km, sebanyak 44% telah hilang. Bahkan, dinyatakan juga bahwa pesisir Tangerang dengan luas 579 hektare lahan sudah hilang dalam rentang tahun 1995-2015. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyatakan bahwa laju abrasi pantai bisa sampai 200 m hingga 500 m dalam 10 tahun terakhir. Sehingga, abrasi memang harus ditanggulangi dan mendapatkan solusi yang tepat agar tidak berdampak buruk pada daerah sekitarnya.

Geobox
Geobox

Kasus Abrasi Pantai di Indonesia

Berikut beberapa kasus abrasi pantai terparah yang pernah terjadi di Indonesia, antara lain:

  • Pantai Timbulsloko, Demak – Jawa Tengah

Abrasi yang terjadi di pantai Timbulsloko Demak ini menjadi salah satu kasus abrasi paling ekstrim. Abrasi ini mulai terjadi pada awal tahun 2000-an dan kini telah menenggelamkan sebagian besar desa. Bahkan, rumah-rumah warga sekarang sudah dikelilingi oleh air laut dan hanya dapat diakses melalui perahu maupun jembatan kayu darurat. Abrasi di pantai Demak ini terjadi karena penebangan mangrove secara masif, konversi lahan menjadi tambak, penurunan muka tanah (land subsidence) dan kenaikan muka air laut.

Selain kehilangan daratan kurang lebih 500 meter, warga juga harus beradaptasi dengan kehidupan tidak layak. Mulai dari akses sulit, air bersih minim serta ancaman berbagai penyakit. Kini, pemerintah telah membangun tanggul dan mulai menanam kembali mangrove. Namun, proses pemulihannya berjalan lambat serta belum mampu mengembalikan fungsi daratan seperti sedia kala.

  • Pantai Mutiara, Muara Gembong – Bekasi

Akibat abrasi yang terjadi di pantai Mutiara, sebanyak kurang lebih 1.000 hektar tambak dan pemukiman menjadi hilang. Padahal, dulunya wilayah ini terkenal sebagai sentra tambak ikan serta udang dan kini sudah berubah menjadi lautan. Abrasi di pantai Mutiara berlangsung cepat dan masif, dengan rata-rata kehilangan daratan mencapai 20 meter per tahun. Faktor utama abrasi ini adalah hilangnya vegetasi mangrove akibat alih fungsi lahan, penurunan permukaan tanah akibat eksploitasi air tanah serta kuatnya arus dan gelombang dari laut Jawa.

Kini, sebagian besar penduduk sudah meninggalkan wilayah tersebut. Bahkan, sekolah, tempat ibadah dan perumahan harus rela ditinggalkan dalam kondisi terendam. Meski begitu, pemerintah serta beberapa komunitas sedang mencoba untuk mengembalikan mangrove sebagai benteng alami. Sayangnya, tantangan ini masih sangat besar mengingat kerusakan parah yang terjadi.

  • Pantai Ulakan, Padang Pariaman – Sumatera Barat

Terakhir, ada abrasi di pantai Ulakan yang telah merusak lebih dari 30 rumah hingga tempat ibadah yang terancam roboh. Abrasi pantai ini masih luput dari perhatian nasional, padahal dampaknya sangat nyata bagi masyarakat setempat. Sejak tahun 2017, abrasi pantai Ulakan terus menggerus daratan secara perlahan. Lalu, puncaknya terjadi tahun 2020-2021 saat gelombang pasang besar muncul merusak puluhan rumah penduduk.

Adapun penyebab utama abrasi pantai Ulakan adalah minimnya pelindung pantai (mangrove atau pemecah ombak), kuatnya arus dan gelombang dari Samudera Hindia serta kerusakan lingkungan akibat pembangunan tidak berkelanjutan. Akibat abrasi dari pantai Ulakan, masyarakat yang terkena dampak mengalami kerugian ekonomi dan sosial. Banyak dari mereka yang memilih pindah karena tidak adanya jaminan keselamatan kalau harus tetap bertahan di wilayah tersebut. Sementara upaya rehabilitasi pantai baru dilakukan melalui penanaman vegetasi serta pembangunan tanggul sederhana, tapi masih sangat terbatas.

Mengenal Geobox: Solusi Penahan Abrasi Pantai

Dari ketiga kasus abrasi yang terjadi di beberapa pantai Indonesia itu, kita bisa mengetahui bahwa abrasi menjadi ancaman nyata yang harus segera mendapatkan solusi. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk menahan abrasi adalah melalui penggunaan Geobox. Geobox merupakan kantong berbentuk balok atau kotak yang berfungsi sebagai penahan abrasi. Bagian dalam Geobox biasanya akan diisi oleh pasir, tanah maupun batu. Untuk Geobox berukuran 1 m x 1 m x 1 m, setelah terisi pasir beratnya akan menjadi 1,4 ton.

Adapun pemasangan Geobox dilakukan minimal 2 row agar lebih kuat dan tak mudah diterjang ombak. Tentunya, implementasi Geobox untuk cegah abrasi ini cocok dipasang di berbagai lokasi kawasan pesisir pantai yang memiliki aktivitas pertanian, perikanan, pariwisata serta hunian.

Rekomendasi Geobox untuk Cegah Abrasi dari Urban Plastic

Salah satu rekomendasi Geobox untuk cegah abrasi pantai terbaik berasal dari merek Urban Plastic. Sebab, Geobox Urban Plastic bisa custom ukuran, sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah pantai sendiri. Selain itu, proses pemasangan Geobox Urban Plastic mudah, praktis dan cepat dilakukan.

Perusahaan PT. Urban Plastik Indonesia adalah Pabrik Plastik di Indonesia yang menjual produk-produk plastik seperti Tali Rafia, Plastik Cor, Plastik Sampah, Plastik Mulsa, Selang Irigasi, Plastik Singkong, Kantong Mayat, Karung Plastik, Geotextile Non Woven, Geomembrane, Geobag, Welding Rod, biji plastik, terpal plastik, Geogrid dan Geomat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Geobox merk Urban Plastic, silahkan hubungi melalui: Whatsapp/Mobile Phone : +62 811 9151 338  (Anna) atau: Email: info@urbanplastic.id .